KENJO, DESA YANG LAHIR DARI ‘MISI’ PENCARIAN AIR
Kenjo, Desa kecil
yang terletak di Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi yang menyimpan kisah
unik dan sejarah yang panjang. Desa Kenjo adalah Desa kecil yang hanya memiliki
populasi kurang lebih 2000 jiwa menurut keterangan dari Kepala Desa Kenjo. Kenjo
memiliki dua Dusun yaitu Dusun Krajan dan Dusun Salakan. Mayoritas mata
pencaharian warga di sana adalah petani. Karna itu pula Desa ini terasa asri
dan sejuk karena sekeliling Desa adalah kebun dan lahar pertanian warga.
Uniknya dulu Kenjo muncul karna ‘misi’ mencari air. Awal nama Kenjo berasal dari bahasa “Kunjo” (bahasa daerah setempat) yang artinya mencari air. Menurut keretangan sepuh adat di sana yaitu pak H. Saerofi, dahulu warga berpindah ke wilayah selatan banyuwangi untuk mencari air, dan seiring waktu “Kunjo” berubah menjadi “Kenjo” yang mana sekarang digunakan nama Desa yang terletak di wilayah Kecamatan Glagah tersebut. Dalam perjalanan mencari air tersebut terbentuklah 2 aliran sungai yang menjadi sumber kehidupan warga. Tetapi sungai itu justru memicu banjir dan akhirnya warga memutuskan untuk membangun “Kenjo Baru” yang kini dikenal sebagai lokasi utama Desa Kenjo.
Dibalik sejarahnya tersebut, terdapat pula budaya yang masih diingat warga yaitu “Kayu Kebang” yaitu bahan utama dalam pembuatan beduk masjid desa. Kayu ini menjadi simbol sejarah dan religius bagi masyarakat Kenjo. Selain itu, terdapat pula “ituk-itukan” yaitu hidangan tradisional yang berisi nasi dan aseman (sate ikan berkuah gulai) yang dibungus daun pisang. Tetapi sayangnya, tradisi ini kerap di claim oleh desa lain sebagai budaya milik mereka. Kini Desa Kenjo telah berusia 215 tahun. Lebih dari 2 abad Desa Kenjo bukan hanya sekedar tempat tinggal dan tempat pulang. Tetapi juga bagian dari sejarah dan budaya Banyuwangi yang tetap hidup di tengah arus modernisasi. Bagi warga, Kenjo adalah identitas mereka sendiri yang harus mereka jaga.
Penulis : Angga
Gunawan
Editor : Rizky Trisna Putri, S.P., M.Si.