PEMBACA SOSIOLOGI SASTRA HINGGA JADI JURNALIS: KISAH ADHITIYA PRASTA, ALUMNUS SOSIOLOGI YANG MENULIS 200 ARTIKEL SELAMA KULIAH

SURABAYA,
sosiologi.fisipol.unesa.ac.id – Dunia akademik dan kepenulisan sering kali
berjalan beriringan, tetapi tidak banyak mahasiswa yang mampu mengoptimalkan
keduanya secara bersamaan.
Adhitiya
Prasta Pratama yang sering disapa Prasta, alumnus Sosiologi angkatan 2020
Universitas Negeri Surabaya merupakan salah satu contoh bagaimana seseorang
bisa mengasah kemampuan akademik sekaligus menuliskan jejak dalam dunia
jurnalistik.
Selama masa
kuliahnya, ia telah menulis hampir 200 artikel baik di media nasional maupun
jurnal ilmiah. Kini, ia bekerja sebagai news kontributor Kompas.com region
Surabaya, sebuah perjalanan yang dimulai dari ketertarikannya pada Sosiologi
Sastra.
Menariknya,
Prasta awalnya berasal dari jurusan IPA di SMA tetapi kecintaannya pada dunia
menulis membuatnya ingin masuk Sastra Indonesia.
Namun,
ketertarikannya berubah setelah menemukan buku Sosiologi Sastra karya Sapardi
Djoko Damono. "Sebagai anak yang ingin masuk sastra, kok ada sosiologinya?
Itu yang bikin aku tertarik," ujarnya saat ditemui di Ketintang, Surabaya
pada Selasa (11/02/25) sore.
Dari sana, ia
memutuskan untuk memilih sosiologi yang ternyata membuka lebih banyak ruang
untuk menulis dan riset yang berhubungan dengan tulis menulis.
Perjalanan di dunia akademik
Perjalanan
akademiknya di UNESA dimulai pada tahun 2020, ketika perkuliahan dilakukan
secara daring akibat pandemi COVID-19.
Selama dua
semester pertama, Prasta memanfaatkan waktu untuk memahami dasar-dasar
sosiologi dengan lebih cepat dibandingkan teman-temannya. Akhirnya, ia mencoba
keluar dari lingkup akademik dan mencari pembelajaran yang ruang lingkupnya
tidak di dalam kelas lagi.
Di
semester 3 dan 4, ia mulai aktif berorganisasi dengan bergabung ke Himpunan
Mahasiswa Program Studi Sosiologi (HMP),
tepatnya di Kepala Biro Kajian Aksi dan Strategis (Kastrat) yang ada dibawah
Departemen Sosial dan Hak Asasi Manusia.
Kastrat
menyusun kajian terhadap isu-isu sosial, nasional, dan lokal yang sedang
mencuat dengan mengumpulkan bahan, menganalisisnya secara sosiologis, serta
mendiskusikan arah tindak lanjutnya bersama anggota, apakah akan mengambil
sikap terhadap isu tersebut atau sekadar menjadikannya sebagai bahan kajian
akademis.
Ketika
memasuki semester 5 dan 6, ia mencari pengalaman kerja dengan mengikuti program
Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) di Dinas Kependudukan dan
Catatan Sipil Kota Surabaya.
Selama
tahun 2022 pula, ia menyusun Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) di bidang
Artikel Ilmiah (AI).
Sebagai
ketua tim yang beranggotakan dua orang, ia dibimbing oleh Pak Agus Machfud
Fauzi dan berhasil membawa kelompoknya lolos ke tingkat nasional serta
mendapatkan insentif.
Dari
total 10 PKM AI yang berhasil melaju ke tingkat nasional dari UNESA, tim Prasta
menjadi salah satunya.
Setelah
MSIB selesai, ia ikut riset bersama Pak Mudzakkir yang sekaligus menjadi DPA-nya.
Selain riset ia juga menjadi relawan SocLab (Sociology Laboratory) dan selama
menjadi relawan sosial banyak berbagai program.
Salah satunya
adalah penulisan buku ajar Sosiologi Pendidikan Tinggi untuk mahasiswa
sosiologi. Di mana ia menjadi satu-satunya mahasiswa dalam tim penulis Bersama
Pak Mudzakkir, Pak Agus dan Pak Farid.
Menulis sebagai ketersambungan
Ketertarikan Prasta
pada dunia menulis tidak hanya terbatas di lingkup akademik.
Sejak 2021, ia
sudah mulai menulis artikel dan opini di media nasional. Seperti Mojok.co, IBTimes, GeoTimes, Harian Kompas, Omong-omong.com. dan jurnal-jurnal ilmiah
yang hingga sekarang telah menerbitkan delapan artikel jurnal ilmiah.
"Total
kalau digabung semua tulisan ilmiah, populer, dan artikel, mungkin sekitar
hampir 200-an sekarang. Dan ini masih terus bertambah karena kerjaanku sekarang
juga writer," ungkapnya.
Ia juga
beberapa kali menjadi finalis Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTI).
Dalam
menyelesaikan studinya, ia tetap konsisten pada minatnya dalam sosiologi
pendidikan. Skripsinya mengangkat tema Sosiologi Pendidikan Tinggi Kritis, yang
menggabungkan teori sosiologi pendidikan kritis dan sosiologi pendidikan
tinggi.
Uniknya,
skripsi tersebut merupakan pengembangan dari tugas artikel yang ia tulis pada
semester 2.
"Aku
pakai teori-teori yang benar-benar baru, yang jarang atau bahkan tidak pernah
diajarkan oleh dosen. Itu yang menurutku paling menarik," ujarnya sambil
menunjukkan beberapa draft skripsinya.
Menurut Prasta,
sosiologi adalah ilmu yang dinamis. Berbeda dengan ilmu eksakta yang memiliki
rumus tetap, sedangkan sosiologi selalu berkembang sesuai kebutuhan zaman. Oleh
karena itu, ia menekankan bahwa mahasiswa sosiologi harus fleksibel dan aktif
beradaptasi.
"Jangan
terlalu kaku. Ikuti perkembangan zaman, misalnya dengan memanfaatkan media
sosial. Tapi tetap harus ada pegangan seperti membaca buku, ikut penelitian,
atau meningkatkan kepekaan terhadap masyarakat," sarannya.
Ia juga
mendorong mahasiswa untuk aktif mengikuti lomba, agar tidak hanya sekadar
kuliah dan berorganisasi tetapi juga memperoleh soft skill yang lain.
Kini setelah
menamatkan kuliah, Prasta bekerja sebagai news kontributor Kompas.com region
Surabaya, sebuah pencapaian yang sesuai dengan minatnya dalam kepenulisan.
Perjalanannya
membuktikan bahwa ilmu sosiologi bisa diterapkan di berbagai bidang, termasuk
jurnalistik.
Dari seorang
pembaca Sosiologi Sastra, Adhitiya Prasta Pratama kini menjadi jurnalis yang
terus menulis, meneliti, dan menginspirasi.
Perjalanan
akademik dan profesionalnya menjadi bukti bahwa dengan konsistensi dan
eksplorasi, mahasiswa sosiologi bisa memiliki masa depan yang luas dan penuh
peluang.
Penulis:
Haya Shofa Maulidya