Forum Diskusi Teori dalam Wadah Kepenulisan: Komunitas Kritis Post-Diagonal dan Visi Baru untuk Mahasiswa Sosiologi UNESA

SURABAYA, sosiologi.fisipol.unesa.ac.id – Setelah sempat vakum beberapa generasi, komunitas diskusi sosiologi yang sebelumnya dikenal sebagai DIAGONAL (Dialektika, Golongan Rasional) kini dihidupkan kembali dengan nama baru, Post-Diagonal.
Forum ini lahir dari kebutuhan mahasiswa sosiologi untuk memiliki ruang diskusi yang mendalam. Sekaligus, menjadi wadah bagi mereka yang ingin mengembangkan bakat kepenulisan di dunia akademik maupun media nasional.
Adhitiya Prasta Pratama, sang founder Post-Diagonal, yang sebelumnya juga merupakan pendiri komunitas Diagonal, menjelaskan bahwa perubahan ini adalah keberlanjutan dan merupakan dekonstruksi dari komunitas sebelumnya.
"Kita ingin melakukan dekontruksi dari diagonal yang dulu. Makanya ada kata 'post' yang berarti pasca, karena ini bukan sekedar meneruskan tapi membangun ulang dengan versi baru,” jelas Prasta saat ditemui tim Web Sosiologi di Ketintang pada Sabtu (15/02/25).
Dari Diskusi Teori ke Kepenulisan Akademik
Saat Pertama kali berdiri pada tahun 2021, Diagonal berfungsi sebagai ruang diskusi bagi mahasiswa yang kesulitan memahami teori-teori sosiologi akibat keterbatasan pembelajaran daring selama pandemi COVID-19.
Komunitas ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari kakak tingkat mereka yang sebelumnya tidak terdampak COVID-19.
“Waktu itu, saya melihat banyak mahasiswa yang kesulitan dalam memahami teori-teori sosiologi karena mereka tidak bisa hadir langsung di kelas. Jadi, Diagonal hadir untuk memfasilitasi diskusi yang lebih ringan dengan metode yang mudah dipahami. Kami membedah pemikiran tokoh-tokoh sosiologi, terutama dari aliran post-modern dengan mengaitkannya ke kehidupan sehari-hari,” tegas Prasta.
Dalam perkembangannya, Diagonal menghadapi tantangan regenerasi karena sifatnya yang tidak memiliki struktur formal. Kepemimpinan dipegang oleh PJ (penanggung jawab) yang ditunjuk berdasarkan rekomendasi.
Setelah Prasta, kepemimpinan beralih ke Ahmada Farukh Rosyidin dari angkatan 2021. Tetapi dengan berjalannya waktu dan regenerasi yang tidak optimal, komunitas sempat mengalami vakum.
Kini, Prasta dan Ahmada kembali menghidupkan komunitas ini dengan nama Post-Diagonal. Perbedaan utama dari versi sebelumnya adalah adanya fokus tambahan pada kepenulisan akademik dan jurnalistik bagi mahasiswa sosiologi.
“Sekarang fokusnya bukan hanya membantu mahasiswa memahami teori sosiologi, tapi juga mengembangkan bakat kepenulisan mereka,” tambahnya Prasta.
Sasaran dan Program Post-Diagonal
Post-Diagonal menargetkan mahasiswa sosiologi angkatan baru, khususnya mereka yang masih berada di semester awal dan belum memiliki pengalaman dalam magang atau penelitian.
Sasaran utama adalah mahasiswa angkatan 2024 yang membutuhkan wadah untuk mengasah keterampilan akademik mereka.
“Apalagi sekarang ada kebijakan bahwa mahasiswa yang memiliki publikasi di jurnal Sinta 2 bisa lulus tanpa skripsi. Itu peluangnya besar. Makanya, Post-Diagonal akan mendampingi mahasiswa dalam menulis jurnal, artikel ilmiah, hingga opini yang bisa dikirim ke media nasional,” kata Prasta.
Post-Diagonal juga berencana untuk mendorong anggotanya mengikuti berbagai kompetisi akademik, seperti lomba karya tulis ilmiah (LKTI), essay, dan menerbitkan artikel ke berbagai media nasional.
“Tujuannya jelas, kami ingin mencetak mahasiswa yang bukan hanya paham teori, tapi juga punya karya. Kita akan melatih mereka agar bisa berkarir di dunia akademik maupun jurnalistik,” tambahnya.
Meski memiliki visi yang jelas, Prasta mengakui bahwa salah satu tantangan terbesar adalah membangun kembali komunitas yang sempat vakum. Ia harus melakukan reformasi agar Post-Diagonal menarik minat siswa baru.
Post-Diagonal diharapkan dapat menjadi wadah yang lebih dari sekadar forum diskusi dan mencetak calon sosiolog yang memiliki pemahaman mendalam sekaligus kemampuan menulis.
“Dengan begitu, tujuan sosiologi sebenarnya sederhana, membaca, menulis, dan mengkontekstualisasikan apa yang dibaca dan ditulis dalam dunia sosial yang lebih nyata,” tutupnya.
Penulis: Haya Shofa Maulidya