Bukan Sekadar Teori, Alumni Sosiologi Bawa Pengalaman CSR dan Community Development dari Pulau Obi
Surabaya, 22 September 2026 - Prodi Sosiologi tidak hanya menghadirkan pembelajaran berbasis teori di ruang kelas, tetapi juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengenal penerapan ilmu Sosiologi di dunia profesional. Kehadiran praktisi yang telah terjun langsung ke dunia profesional menjadi salah satu cara bagi Prodi Sosiologi untuk memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai bagaimana ilmu Sosiologi diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Hal tersebut tergambar dalam sesi bersama Kak Windi Ashari, alumni Sosiologi angkatan 2017, yang kini berkarier di bidang Community Development dan Corporate Social Responsibility (CSR).
Dalam kesempatan tersebut, Windi membagikan pengalaman dan pengetahuannya melalui materi “Empowering Communities for Sustainable Development on Obi Island” dengan pendekatan Participatory, Collaborative & Sustainable Approach. Saat ini Kak Windi berprofesi sebagai Community Development Supervisor di PT Trimegah Bangun Persada (Harita Nickel), Pulau Obi, Maluku Utara.
Aktivitas pertambangan tentu menghadirkan peluang bagi masyarakat, mulai dari kesempatan kerja dan usaha, pembangunan infrastruktur, hingga transfer keterampilan dan pengetahuan teknis. Namun, di sisi lain, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan, seperti perubahan penggunaan lahan, tekanan terhadap lingkungan, persoalan air, debu dan kebisingan, hingga potensi ketimpangan dan kecemburuan sosial antarmasyarakat. Ketergantungan masyarakat terhadap satu sektor ekonomi juga menjadi salah satu hal yang perlu diantisipasi untuk menjaga keberlanjutan penghidupan masyarakat.
Pembahasan tersebut memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan. Pengembangan masyarakat di wilayah sekitar industri tidak hanya berkaitan dengan peningkatan aktivitas ekonomi, tetapi juga bagaimana masyarakat memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kapasitas, memperluas sumber penghidupan, dan berpartisipasi dalam proses pembangunan secara berkelanjutan.
Kak Windi menekankan pentingnya perubahan pendekatan dari sekadar memberikan bantuan menuju proses membangun kapasitas masyarakat. Dalam materi yang disampaikan, ia membedakan antara filantropi, Community Development, dan pemberdayaan. Filantropi berorientasi pada pemberian bantuan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek, sedangkan Community Development menempatkan masyarakat sebagai mitra dalam pelaksanaan program. Sementara itu, pemberdayaan diarahkan untuk membangun kemandirian, meningkatkan posisi tawar, serta menciptakan keberlanjutan.
Pendekatan tersebut salah satunya diwujudkan melalui program RUTE (Rumah Usaha Tangguh Ekonomi) dengan tagline “Berdaya, Bertumbuh & Bermanfaat.” Program tersebut menjadi salah satu contoh praktik pengembangan masyarakat yang tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi juga membangun kapasitas dan kemandirian masyarakat.
Selain membahas praktik pemberdayaan masyarakat, Windi juga menjelaskan keterkaitan ilmu Sosiologi dengan praktik Community Development. Menurutnya, pengetahuan dan kemampuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan Sosiologi dapat menjadi modal dalam memahami masyarakat serta menentukan pendekatan yang sesuai dengan kondisi sosial di lapangan.
Salah satunya melalui pemetaan sosial (social mapping), yang membantu praktisi memahami karakteristik, kondisi, potensi, kebutuhan, serta dinamika masyarakat sebelum sebuah program dirancang. Menurut Kak Windi, proses memahami masyarakat juga perlu dilakukan dengan empati dan tanpa judgement.
Kak Windi juga membagikan pentingnya menyesuaikan pendekatan dengan budaya (culture) masyarakat setempat. Setiap masyarakat memiliki karakteristik, nilai, kebiasaan, serta cara berinteraksi yang berbeda sehingga pendekatan dalam proses pemberdayaan tidak dapat dilakukan secara seragam. Pemahaman terhadap budaya lokal menjadi salah satu bagian penting dalam membangun kedekatan dan kepercayaan dengan masyarakat.
Penyampaian materi tersebut mendapat antusiasme dari mahasiswa. Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan sejumlah pertanyaan mengenai penerapan ilmu Sosiologi dan peluang berkarier di bidang Community Development.
Menurut Kak Windi, kemampuan memahami masyarakat dengan empati, melakukan pendekatan tanpa judgement, serta menyesuaikan cara berinteraksi dengan culture masyarakat menjadi bekal penting dalam membangun kepercayaan. Kemampuan tersebut juga dapat menjadi nilai yang dibawa oleh lulusan Sosiologi ketika memasuki dunia profesional, khususnya pada bidang yang berkaitan langsung dengan masyarakat.
Kehadiran Kak Windi sebagai alumni sekaligus praktisi memberikan gambaran nyata mengenai hubungan antara ilmu Sosiologi dan dunia profesional. Pengalaman yang dibagikan menunjukkan bahwa kemampuan melakukan pemetaan sosial, memahami dinamika masyarakat, membangun komunikasi berbasis empati, serta menyesuaikan pendekatan dengan konteks budaya dapat diterapkan secara langsung dalam praktik Community Development.
Kak Windi juga menyinggung pentingnya memiliki tujuan hidup dan terus melakukan upgrade diri di tengah dunia profesional yang terus berkembang. Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki kemauan untuk mempelajari hal-hal baru, termasuk kemampuan berbahasa, serta mampu memilah aktivitas dengan mengurangi hal-hal yang kurang penting.
Penulis: Devira Putri Rahmawati
Editor: Haya Shofa Maulidya